Konsep Pembangunan Desa Berbasiskan Data

Konsep Pembangunan Desa Berbasiskan Data

Sering kali paradigma muncul diberikan kepada sebuah Desa/ Kelurahan atau lebih khusus Masyarakat Pedesaan yang merupakan sekumpulan orang yang bermukim disuatu tempat yang jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk perkotaan, berkoloni dengan tradisi lama dan sangat jauh dengan teknologi. Paradigma itu seaakan menjadi tolak ukur masyarakat perkotaan bahwa kehidupan di Pedesaan merupakan kehidupan yang serba kolot dan kampungan, tetapi tidak semuanya mengatakan demikian, hanya sebagian kecil saja yang menganggap pernyataan tersbut. Tidak dipungkiri terkait permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi oleh masyarakat Pedesaan adalah kurangnya sarana dan prasarana yang diberikan oleh Pemerintah, baik pusat maupun daerah. Jika seandainya masyarakat Pedesaan mampu dan memiliki ruang strategis untuk bersaing dengan masyarakat lainnya, kemungkinan kehidupan masyarakat Pedesaan lebih baik dibandingkan dengan masyarakat Perkoataan. Sisi positif akan lebih banyak dimiliki daripada sisi negatifnya, terutama dibidang Teknologi Informasi.

Teknologi Informasi saat ini mewabah dimasyarakat baik Perkotaan maupun Pedesaan. Perkembangan yang semakin pesat telah merambah ke pelosok nusantara, internet dan teknologi lainnya mampu menyihir berbagai kalangan. Hal itu menjadi sebuah ironi, dimana dikatakan telah merambah hingga pelosok nusantara yang telah diberitakan oleh beberapa sumber, namum bagaimana penggunaan, pemanfaatan serta implementasinya hanya isapan jempol semata. Sebagaimana kita ketahui, internet dengan kumpulan data-data yang tidak terhitung jumlahnya tidak dimanfaatkan secara baik dan benar. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah pendidikan dan pelatihan serta pemanfaatan. Mungkin kita dapat melihat disekeliling kita bagaimana teknologi informasi itu digunakan baik diperkotaan maupun dipedesaan. Terlepas dari itu semua berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik dari 33 provinsi di Indonesia rata-rata telah menggunakan dan memanfaatkan teknologi informasi sampai dengan Tahun 2013 khususnya di daerah Pekotaan. Dari masing-masing sektor, sektor Pedesaan hanya mencapai 11% yang telah memanfaatkan teknologi tersebut. Hal tersbut tidak tercermin dengan amanat pemerintah tentang pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi disegala sektor.

Sejauh ini perkembangan teknologi yang kian mudah sembari telah dicanangkan pemerintah dan telah dibukanya konsep Open Government Data (OGD) sehingga lebih memudahkan publik dalam mencari informasi yang diinginkannya. Kita ambil sebuah contoh Provinsi Riau yang terdiri dari 5,9 Juta jiwa dengan jumlah Desa/ Kelurahan 1.695, sampai dengan Tahun 2014 tercatat lebih dari 900 Desa berada pada sektor Pedesaan dan 40 persennya belum dapat dialiri listrik apalagi teknologi informasi seperti internet dan sebagainya. Hal ini sangat ironi dengan keadaan Riau yang merupakan penyumbang devisa terbesar Indonesia yang mencapai 45%. Permasalahan lain tidak meratanya teknologi informasi di wilayah ini adalah terjadinya krisis energi listrik di Provinsi penghasil minyak bumi dan minyak kelapa sawit ini. Dengan 2,26 Juta Ha luas perkebunan kelapa sawit dengan produksi rata-rata mencapai 6,93 Juta Ton pertahun tidak seharusnya provinsi ini dilanda krisis energi. Oleh karena itu, dirancang sebuah rencana penelitian tentang produksi produktivitas perkebunan kelapa sawit untuk mengembangkan pusat energi terbarukan yang dapat mengatasi krisis energi di Riau. Rencana kedepan dari riset ini hendaknya mampu memberikan pasokan energi yang merata hingga terwujudnya masyarakat yang bebas dari krisis energi dan tentunya mengusai data teknologi informasi.

Rencana strategis ini tentunya harus mendapat dukungan dari beberapa aspek baik ekonomi, sosial dan teknologi. Pemerintah dalam hal ini wajib memasang badan terdepan untuk mewujudkan cita-cita besar untuk kemakmuran rakyat. Masyarakat juga memiliki andil dalam mensukseskan program-program yang pro pemerintah khususnya untuk pengembangan diri dan teknologi tepat guna. Sejauh ini kita selalu terlena dengan prospek kemandirian yang dijanjikan, tetapi hal tersebut hanya sebatas angan-angan belaka. Wujud pasti adalah dengan melakukan pembelajaran dan mengetahui infomasi publik yang akurat.

Dalam dunia teknologi dikenal dengan istilah Sistem Informasi yang menganut arti sekumpulan informasi yang dapat diakses melalui media digital yang mampu berinteraksi dengan manusia. Mungkin istilah ini masih awam ditelinga masyarakat pedesaan, apa maksud dan tujuan ini semua. Oleh karena itu, sistem informasi yang berupa data-data, informasi serta aplikasinya hendaknya diberikan kepada masyarakat luas bagaimana konsep dan penggunaannya. Kita pernah membayangkan suatu hal yang mungki tidak pernah terfikirkan oleh orang lain. Hal yang mustahil kita kerjakan akan tetapi memberikan manfaat kepada khalayak banyak, itulah sebabnya salah satu kunci membangun desa adalah dengan data-data.

Sebuah konsep yang dirancang dengan matang untuk memperkenalkan penggunaan teknologi informasi tepat guna kepada masyarakat Pedesaan, dengan desain yang mudah serta dapat membangun kepribadian terkait teknologi infomasi. Langkah awal yang harus dilakukan adalah memberikan sosialisasi kepada masyarakat, training dan perkenalan konsep yang dikenalkan dan menjalankan aturan-atauran yang diberlakukan. Pengembangan dan pembanguunan ini menjadi tolak ukur untuk peningkatan taraf hidup orang banyak yang dapat dikaitkan dengan kebutuhan informasi terkait profesi mereka.

Mendirikan pusat-pusat perpustakaan digital adalah konsep yang cerdas untuk anak-anak dipedesaan, intergrasi yang dibangun berupaya memperkenalkan anak-anak kepada dunia teknologi tepat guna. Internet sehat untuk remaja, memberikan arahan yang positif dengan berlandaskan ajaran-ajaran agama serta moral dan etika masyarakat. Remaja umumnya rentan kepada hal-hal yang bersifat baru yang berbau teknologi, disini peran penting kita sebagai seorang kreator dibutuhkan. Konsep baru yang akan diberikan kepada masyarakat kalangan generasi tua adalah informasi publik, pemerintahan dan pekerjaan. Kondisi ini mampu memberikan efek terbaik kepada masyarakat karena disebabkan beberapa hal misalnya pengetahuan, model yang baru dan tidak dibatasinya sebuah informasi. Dengan program-program yang berkaitan dengan data harapan kita sebagai seorang kreator adalah mewujudkan masyarakat Pedesaan dengan konsep data.

Kembali kepermasalahan sebelumnya, beberapa program peduli data yang diusung hendaknya juga disokong oleh sarana dan prasarana seperti perpaduan antara masyarakat awam dengan terpelajar, kondisi pedesaan dengan energi yang memungkinkan dan keterbatasan informasi dengan sistem informasi yang digunakan. Ketiga aspek penting tersebut perlu didahulukan sebelum melaksanakan program-program yang diusung. Harapan besar dari proses tersebut adalah:

  1. Menciptakan suasana Desa dengan penuh informasi yang terbuka
  2. Terciptanya Desa berbasis teknologi informasi
  3. Menjadi cikal bakal terwujudnya Indonesia kreatif masa depan
  4. Mampu bersaing dengan masyarakat Perkotaan dalam konteks global

Empat tujuan diatas akan mampu dicapai dengan beberapa indikator dan dukungan pemerintah setempat baik Desa, Kecamatan dan Kabupaten. Prinsip saling membantu dan bergotong royong nasional perlu diterapkan dalam proses membangun desa berbasis teknologi informasi.

Sumber Gambar

Leave a Reply

Close Menu